24 C
Anyar
Sejarah Dan Budaya Sejarah Penyebab Utama Keruntuhan Uni Soviet

Penyebab Utama Keruntuhan Uni Soviet

Kita tahu, Uni Soviet dahulu sangat perkasa pada pertengahan ’80-an. Lantas, mengapa negara itu runtuh hanya dalam beberapa tahun?
Mari Kita simak Penyebab Utama Keruntuhan Uni Soviet !!!

1. Reformasi Gorbachev

Kinerja ekonomi yang buruk dan berkembangnya gerakan nasionalis tentu berpengaruh pada kejatuhan Soviet, tetapi faktor yang benar-benar dianggap memicu keruntuhan Negeri Tirai Besi adalah tindakan pemimpin negara itu sendiri, yang dimulai pada pertengahan 1980-an dengan kebijakan Perestroika Gorbachev. Ada teori konspirasi yang populer di Rusia bahwa Gorbachev sengaja berusaha menghancurkan sosialisme dan Uni Soviet. Namun, itu tak ditanggapi secara serius karena tidak ada indikasi apa pun yang menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin melemahkan kepemimpinannya sendiri.

Sebaliknya, Perestroika mencoba mereformasi sistem Soviet, yang pada saat itu menunjukkan tanda-tanda penurunan. Reformasi pertamanya, yang disebut “percepatan” ekonomi, seharusnya melepaskan potensi “sosialisme modern”. Shlapentokh menyebut reformasi ini “neo-Stalinis” karena dilakukan dalam paradigma yang sama dengan kebijakan pendahulu Gorbachev yang kejam.

Meskipun Gorbachev berniat baik, ekonomi gagal untuk “mempercepat” dan, sebaliknya, kebijakannya yang tidak efektif malah melemahkan negara. Sistem Soviet sebelum Gorbachev memang buruk, tetapi karena reformasinya itu semua langsung berhenti berfungsi. Shlapentokh mengatakan, “Demi memodernisasi ekonomi, Gorbachev memulai proses demokratisasi radikal yang membuat kematian sistem Soviet dan negara menjadi tak terelakkan.” Sementara itu, muncul aktor-aktor baru, di antaranya Boris Yeltsin, yang ingin menciptakan Rusia yang merdeka. Ini berarti “kematian Uni Soviet yang tak terhindarkan”.

2. Harga minyak dan inefisiensi ekonomi

“Tanggal keruntuhan Uni Soviet sebetulnya sudah diketahui. Itu bukan pada hari ditandatanganinya Piagam Belovezha atau pada kudeta Agustus (1991), melainkan pada 13 September 1985 ketika Menteri Perminyakan Arab Saudi, (Ahmed) Yamani, menyatakan bahwa negaranya keluar dari perjanjian pembatasan produksi minyak dan mulai meningkatkan produksinya di pasar minyak. Setelah itu, Arab Saudi meningkatkan produksi minyak sebesar 5,5 kali lipat dan harga minyak turun 6,1 kali lipat,” tulis Egor Gaidar, pakar reformasi ekonomi di Rusia pasca-Soviet pada 1990-an dan sekaligus pelaksana tugas perdana menteri Rusia pada 1992.

Pyotr Aven, yang kala itu menjabat sebagai menteri hubungan ekonomi luar negeri dalam kabinet Gaidar, dan kini merupakan seorang pengusaha berpengaruh, mendukung interpretasi tersebut. “Itu adalah titik balik utama pada 1986. Ketika harga minyak jatuh, seluruh kemungkinan untuk menghasilkan pendapatan (untuk Uni Soviet) pun runtuh.” Aven menyebutkan, pendapatan minyak mendanai kebutuhan biji-bijian (17 persen biji-bijian Soviet diimpor). Uang itu juga digunakan untuk “menyuap para elite” dalam bentuk barang jadi yang dibeli pemerintah dari Barat (Uni Soviet tak mampu menghasilkan barang-barang dengan kualitas sebaik buatan Barat) supaya barang-barang itu tersedia hingga ke lapisan atas. Di sisi lain, turunnya harga minyak ternyata bertepatan dengan perlambatan ekonomi yang, menurut Aven, dimulai pada 1960-an. Tren jangka panjang ini, yang diperparah dengan penurunan pendapatan minyak, menyebabkan runtuhnya model ekonomi Soviet.

Baca Juga :  Masjid Biru Sankt Peterburg, Saksi Sejarah Manisnya Hubungan Indonesia - Uni Soviet

Pada saat yang sama, beberapa ahli percaya bahwa, terlepas dari inefisiensi ekonomi Soviet dan kelangkaan barang-barang pokok, situasi kala itu tidak terlalu buruk. Vladimir Shlapentokh, sosiolog terkenal Soviet yang kemudian menjadi warga negara Amerika, mengatakan, “Dalam dekade terakhir (keberadaan Uni Soviet), tingkat pertumbuhan ekonomi terus menurun, kualitas barang memburuk, dan kemajuan teknologi melambat …. Meski demikian, kondisi kala itu sebetulnya lebih bersifat kronis daripada fatal/mematikan. Layaknya orang yang sakit, masyarakat yang sakit pun bisa berumur panjang ….” Memang, berdasarkan statistik resmi Soviet, PDB negara baru mengalami penurunan untuk pertama kalinya pada 1990 (setahun sebelum keruntuhan).

3. Konflik etnis

Di akhir ’80-an, pada masa Perestroika, terjadi peningkatan kekerasan yang disebabkan persaingan nasionalisme etnis di republik-republik Soviet. Contoh pertama kekerasan etnis terjadi pada akhir 1986 di ibu kota Kazakhstan, Almaty. Saat itu, anak-anak muda Kazakh yang tak puas dengan pengangkatan kepala republik mereka, yang merupakan seorang beretnis Rusia, berdemonstasi hingga menyebabkan kerusuhan. Akhirnya, pemerintah mengirim pasukan untuk meredakan kerusuhan. Kemudian, ada pogrom (pembunuhan besar-besaran) di kota Sumgait, Azerbaijan, dan aksi kekerasan di Tbilisi, Baku, dan tempat-tempat lain di seluruh negeri. Konflik paling berdarah terjadi di Karabakh antara Azerbaijan dan Armenia, yang kadang-kadang disebut sebagai “salah satu pemicu politis utama

Baca Juga :  Masjid Biru Sankt Peterburg, Saksi Sejarah Manisnya Hubungan Indonesia - Uni Soviet

Konflik di Karabakh antara Azerbaijan dan Armenia kadang-kadang disebut sebagai salah satu pemicu politis utama yang mengawali disintegrasi Uni Soviet.
Konflik di Karabakh antara Azerbaijan dan Armenia kadang-kadang disebut sebagai salah satu pemicu politis utama yang mengawali disintegrasi Uni Soviet.

yang mengawali disintegrasi Uni Soviet”. Pada akhir 1980-an, konflik etnis berubah menjadi mematikan, menewaskan ratusan orang dalam pertempuran.

Namun, bahkan pada 1990, mayoritas republik Soviet tak ingin meninggalkan Uni Soviet. Menurut sejarawan Rusia Aleksandr Shubin, situasi kala itu terbilang relatif tenang. Dari 15 republik Soviet, hanya negara-negara Baltik (Latvia, Lituania, dan Estonia) dan Georgia yang dengan tegas ingin melepaskan diri. “Terlepas dari semua bahaya yang ditimbulkan gerakan separatis nasionalis terhadap keutuhan Uni Soviet, mereka tak memiliki cukup kekuatan untuk menghancurkan negara,” ujar sang sejarawan.

Jurnalilmuhttps://jurnalilmu.com
Jurnalilmu Adalah Situs Kumpulan Artikel Sains, Teknologi, Kesehatan, Sejarah dan Budaya, Serta Tips Dan Trik.

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti

Artikel Populer

Mengapa Hanya 10 Persen Saja Orang Kidal di Dunia?

Apakah Anda termasuk seorang yang kidal? Berarti, Anda termasuk salah satu dari 10 persen populasi kidal di dunia.Telah lama, para ilmuwan mencoba menganalisis dan...

Apa itu Amonium Nitrat ?

Saat ini Dunia dikejutkan dengan ledakan dahsyat di Beirut, ibu kota Lebanon, pada Selasa (4/8/2020) lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 100 orang meninggal...

Benarkah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat itu Berbahaya?

Membawa air minum dalam botol plastik ke mana-mana memang jadi pilihan yang praktis dan sehat. Di hari yang panas terik, sebotol air minum bisa jadi...

Inilah Cara Membersihkan Botol Minum yang Benar

Siapa diantara kalian suka bawa botol minum sendiri setiap berpergian? Kalau iya, tandanya kamu peduli dengan Bumi kita!Karena saat berpergian tanpa botol minum sendiri, kebanyakan orang...

Tahukah Kamu Apa Itu Serat?

Tahukah kamu apa itu serat? Serat adalah suatu jenis bahan berupa potongan-potongan komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuh. Menurut kamus bahasa indonesia, serat...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ini Dia 6 Bahan Alami yang Bisa Mengatasi Kulkas yang Sering Bau

Hampir semua orang di jaman sekarang pasti memiliki kulkas, selain untuk mendinginkan makanan, kulkas juga bisa menjadi tempat aman untuk menyimpan berbagai makanan.Karena, suhu dinginnya...

Mengapa Hanya 10 Persen Saja Orang Kidal di Dunia?

Apakah Anda termasuk seorang yang kidal? Berarti, Anda termasuk salah satu dari 10 persen populasi kidal di dunia.Telah lama, para ilmuwan mencoba menganalisis dan...

Apa itu Amonium Nitrat ?

Saat ini Dunia dikejutkan dengan ledakan dahsyat di Beirut, ibu kota Lebanon, pada Selasa (4/8/2020) lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 100 orang meninggal...

Benarkah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat itu Berbahaya?

Membawa air minum dalam botol plastik ke mana-mana memang jadi pilihan yang praktis dan sehat. Di hari yang panas terik, sebotol air minum bisa jadi...

Inilah Cara Membersihkan Botol Minum yang Benar

Siapa diantara kalian suka bawa botol minum sendiri setiap berpergian? Kalau iya, tandanya kamu peduli dengan Bumi kita!Karena saat berpergian tanpa botol minum sendiri, kebanyakan orang...