29.8 C
Anyar
Sejarah Dan BudayaBudayaPuro Mangkunegaran dan Modernitas Batiknya

Puro Mangkunegaran dan Modernitas Batiknya

Puro Mangkunegaran terletak di tengah pusat kota Surakarta, tidaklah begitu sulit untuk mengidentifikasi bangunan besar dan lapang di tengah kota tersebut, yakni Puro Mangkunegaran yang merupakan pusat pemerintahan dan kediaman Mangkunegoro.

Kadipaten yang terbentuk pada tahun 1757 melalui Perjanjian Salatiga antara R.M. Said yang kemudian bergelar K.G.P.A.A Mangkunegoro I dan Pakubuwana III, raja dari Kasunanan Surakarta ini, mencatat beberapa sepak terjang modernitas yang pernah hadir di tanah Nusantara.

Sepak terjang Mangkunegaran di dalam perkembangan masyarakatnya dapat terlihat dengan beberapa pembangunan yang masif yang terkait dengan kesejahteraan masyarakatnya, sebut saja beberapa pabrik gula yang didirikan oleh Mangkunegoro IV dan juga pembangunan stasiun kereta api Solo Balapan yang tanahnya merupakan milik dari Mangkunegoro itu sendiri.

Selain kedua tempat tersebut, era keemasan Puro Mangkunegaran juga masih berlanjut di era Mangkunegara VII yang banyak melakukan revitalisasi dan pembangunan di wilayahnya. Sebut saja Ponten yang merupakan sarana MCK yang diperuntukkan bagi masyarakat, pembangunan taman Balekambang, pendirian stasiun radio yang menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia, revitalisasi pasar Legi.

Selain bangunan dan fasilitas, bentuk modernitas kesultanan ini juga hadir dalam gaya berbusana, termasuk batik.

Batik yang berkembang pada awal era Imperium Mataram, dikenal sebagai batik Mataraman dan pada akhirnya berkembang di dalam tembok Karaton Kasunanan Surakarta–menghasilkan inovasi dan kreatifitas di dalam Kadipaten ini.

Baca Juga :  Mengenal Ragnarok, Serangkaian Peristiwa Kiamat Pada Cerita Mitologi Nordik

Layaknya batik yang berkembang di tembok Kasunanan Surakarta, proses membatik di dalam Puro Mangkunegaran pun dilakukan oleh para wanita beserta abdi dalem mereka sehingga melahirkan motif-motif beserta corak baru.

Motif Candi Luhur
Motif Candi Luhur

Motif-motif yang berkembang pun sangat dinamis. Perpaduan antara motif buketan dipadu dengan gaya-gaya pakem klasik serta pewarnaan sogan Jawa, menghasilkan karya-karya baru yang indah. Sebut saja beberapa motif seperti Candi Luhur, Grageh Waluh, atau motif Pakis yang menjadi batik yang wajib dimiliki oleh seluruh kerabat Mangkunegaran.

Baca Juga :  Mengenal Ragnarok, Serangkaian Peristiwa Kiamat Pada Cerita Mitologi Nordik

Lalu bagaimana dengan motif batik larangan? Apakah ada suatu motif tertentu yang tidak boleh dipakai oleh orang lain? Tentu, seperti layaknya Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Puro Pakualaman, motif batik parang adalah motif batik terlarang yang hanya boleh dipakai oleh Adipati dan keluarganya, hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya Imperium Mataram itu sendiri.

Surakarta dan Yogyakarta sebagai penerus dari Imperium Mataram boleh dikata memiliki pandangan utama dalam perkembangan batik. Rumah-rumah batik dengan segala corak dan motif yang menarik, menambah sisi misterius batik yang perlu disingkap.

Jurnalilmuhttps://jurnalilmu.com
Jurnalilmu Adalah Situs Kumpulan Artikel Sains, Teknologi, Kesehatan, Sejarah dan Budaya, Serta Tips Dan Trik.

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti

Artikel Populer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru